Senin, 21 Februari 2011

pesan-pesan terakhir Baden Powel


Pramuka-pramuka yang kucinta, Jika kamu pernah melihat sandiwara Peter Pan, maka kamu akan melihat mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum meninggal, karena ia takut, kalau-kalau tidak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba. Demikian halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum meninggal, namun saat itu akan tiba juga bagiku. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri, Ingatlah, ini adalah pesanku yang terakhir bagimu.
Oleh karena itu, renungkanlah !

Pandu-pandu sedunia yang tercinta! Sebelum akhir hayatku kian mendekat, tak ada salahnya aku berpesan kepada kalian sebagai tanda perpisahan dariku untuk selama-lamanya sebelum meninggalkan semuanya....

Ini merupakan pesanku yang terakhir, camkanlah baik-baik dalam hatimu. Cita-citaku sebagian sudah tercapai sehingga dapat dipetik hasilnya. Sebagian lagi yang belum tercapai mudah-mudahan oleh kalian bisa diteruskan sehingga bisa bermanfaat buat hidupmu.
Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jika kalian meneliti alam sekeliling ciptaan Tuhan, niscaya akan menyadari bahwa sesungguhnya hidup ini penuh dengan keajaiban yang dapat menimbulkan kebaikan dan keindahan bagi kita. Lebih baik kita mengamati dan menikmati segala macam yang kita anggap baik dan indah daripada kita selalu mencari-cari hal yang jelek.

Keinginan tiada lain, berusahalah kalian agar kelak bila saatnya tiba untuk mengembuskan napas terakhir harus dalam keadaan bahagia dan puas. Oleh karena itu, selama hidup di dunia gunakanlah waktumu sebaik-baiknya. Berikhtiarlah terus dengan penuh optimistis untuk mencari kebahagiaan di atas dunia ini.
Itu semua sudah tercantum dalam pegangan hidup kita berupa Janji Pandu (Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka). Sekali kita mengucapkan Sumpah Setya, maka seumur hidup akan tetap seorang pandu.

Tuhan akan memberikan perlindunganNya bila kita senantiasa berusaha dengan niat suci dan ikhlas. Salam terakhir dari sahabatmu,

Baden Powell of Gilwell

Jumat, 18 Februari 2011

awal yang sedikit sulit

mungkin aku sudah terlanjur jatuh dalam hatimu sehingga aku sulit untuk melepaskan dari bayang-bayangmu....
sekuat tenaga menghapus memorimu tapi sekuat itulah ditolak oleh sisten yang ada dikepalaku....
apa perlu aku benturkan kepala ini subaya ter-reset???
asal kamu tahu setiap hari aku selalu menahan diri supaya tidak menhubungimu....
dan itu sangatlah menyiksa...

tak usah terlalu dipikirkan

aku bersyukur, pasak it belum belum menancap begitu dalam dan belum terlalu lama... sehingga masih mudah untuk dicabut..
meskibun begitu tetap saja meninggalkan bekas.. ya... walaupun bekasnya tak terlalu dalam, tapi tetap saja terasa S.A.K.I.T

Senin, 14 Februari 2011

NGGAK SALAHKAN????

Merasa bersalah terhadap keluarga, lebih-lebih dengan kawan semasa SMA. Tak beraniku menyalahkna siapa-siapa. Alasanku ingin membenankan diri dalam kesibukan adalah karena dia. Mungkin dia adalah ujian yang diberikan Tuhan untukku, yang kisahnya hampir serupa dengan kisahku sebelumnya. Terkait dengan tulisanku yang kemarin, ya sama. Mungkin sebelum-sebelumnya aku belum berhasil mengatasi ujian tersebut mka aku arus ikut remidi lagi. Tak apa, aku yakin tujan Tuhan pasti baik akan kupastikan itu.
Tak bisa dilupakan. Semakn lama malah semakin jelas beangnya dalam benakku. Nemun ku tak mampu ntuk mengungkapnya. Karena slalu terbayang hal-hal buruk yang akan terjadi jika kuungkap semua. Menunggu, itulah yang aku lakukan sekarang. Menunggu dia memulai, memununggu dia bergerak dan menunggu dia dan menunggu dia. Hanya itu...
Namun bukan perkara mudah untuk menuggu. Bosan, jenuh dan jengah. Tapi apa? Aku tak bisa lakukan selain itu. Akhirnya kucari cara untuk sejenak tak memikirkan dia. Ya itu tadi, mencari kesibukan lagi. Kembali seperti aku dimasa SMA yang total dalam kegiatan. Bukannya tapa konsekuensi, karena ini kukorbankan sahabatku, keluragaku. Aku jadi jarang pulang, jarang ada jika dibutuhkan dan sering tanpa kabar. saat kuteringat sahabatku, kadang kumerasa jengkel sendiri. Kukira mereka sekarang sudah berubah, jarang ngadain kumpul-kumpul kalau diajak kumpulpun selalu tak bisa. Ternyata semua salah. Akulah yang selama ini tak bisa menyempatkan waktu untuk mereka. Bukan karena aku tak mau, tapi karena kesibukanku tadi dan inilah konsekuensinya.
Hanya karenanya kurela mengalami ini semua. Meskipun belum tentu dia merasa apa yang kurasa sekarang, berpikir apa yang kupikir sekarang....
Kalaupun ternyata tidak.,
Aku menunggu Tuhan mengirimkan orang lain yang lebih baik untukku...

Semarang, 24 Septeber 2010
10:27 WIB
@ Guslat Base