Merasa bersalah terhadap keluarga, lebih-lebih dengan kawan semasa SMA. Tak beraniku menyalahkna siapa-siapa. Alasanku ingin membenankan diri dalam kesibukan adalah karena dia. Mungkin dia adalah ujian yang diberikan Tuhan untukku, yang kisahnya hampir serupa dengan kisahku sebelumnya. Terkait dengan tulisanku yang kemarin, ya sama. Mungkin sebelum-sebelumnya aku belum berhasil mengatasi ujian tersebut mka aku arus ikut remidi lagi. Tak apa, aku yakin tujan Tuhan pasti baik akan kupastikan itu.
Tak bisa dilupakan. Semakn lama malah semakin jelas beangnya dalam benakku. Nemun ku tak mampu ntuk mengungkapnya. Karena slalu terbayang hal-hal buruk yang akan terjadi jika kuungkap semua. Menunggu, itulah yang aku lakukan sekarang. Menunggu dia memulai, memununggu dia bergerak dan menunggu dia dan menunggu dia. Hanya itu...
Namun bukan perkara mudah untuk menuggu. Bosan, jenuh dan jengah. Tapi apa? Aku tak bisa lakukan selain itu. Akhirnya kucari cara untuk sejenak tak memikirkan dia. Ya itu tadi, mencari kesibukan lagi. Kembali seperti aku dimasa SMA yang total dalam kegiatan. Bukannya tapa konsekuensi, karena ini kukorbankan sahabatku, keluragaku. Aku jadi jarang pulang, jarang ada jika dibutuhkan dan sering tanpa kabar. saat kuteringat sahabatku, kadang kumerasa jengkel sendiri. Kukira mereka sekarang sudah berubah, jarang ngadain kumpul-kumpul kalau diajak kumpulpun selalu tak bisa. Ternyata semua salah. Akulah yang selama ini tak bisa menyempatkan waktu untuk mereka. Bukan karena aku tak mau, tapi karena kesibukanku tadi dan inilah konsekuensinya.
Hanya karenanya kurela mengalami ini semua. Meskipun belum tentu dia merasa apa yang kurasa sekarang, berpikir apa yang kupikir sekarang....
Kalaupun ternyata tidak.,
Aku menunggu Tuhan mengirimkan orang lain yang lebih baik untukku...
Semarang, 24 Septeber 2010
10:27 WIB
@ Guslat Base
Tidak ada komentar:
Posting Komentar